Minggu, 30 Mei 2010

Cintaku Cinta Putih

Lala dan Lulu

Banyak yang bilang aku bodoh..

Sahabatku juga bilang aku naif....

Tapi semuanya aku lihat dari sudut pandang seorang ibu yang mencoba patuh pada norma dan tatanan yang ada. Tidak menuntut, tidak membantah.

Pagi itu semua orang berjalan lalu lalang menuju pasar tempat mereka mencari nafkah, sedangkan aku, hanya duduk disini, menemani dua anakku yang baru berumur dua bulan sepuluh hari.

Umurku baru dua puluh satu tahun, hanya lulusan SMA Negeri di sebuah kota yang cuma sekelas kecamatan. Menikah karena memang sudah waktunya aku harus menikah , kata orang tuaku.

"Rahma" Ibuku memanggil

"Iya Buk, saya disini, berjemur" jawabku sambil mengayun kereta dorong dua anak kembarku, Lala dan Lulu.

"Kamu harus makan, keburu dingin. Biarin Ibu yang jaga Lala dan Lulu" Ibuku datang dengan membawa satu piring nasi lengkap dengan empal goreng, tempe goreng dan sayur bayam. Itulah makananku sehari hari sejak dua bulan ini.

"Inggih Bu..." aku pun masuk rumah dan membiarkan ibuku bersenandung di dekat cucunya. Ibuku sangat mengerti keadaanku saat ini karena kelahiran bayi ini sebenarya belum aku harapkan.

Hanya dalam waktu lima menit aku menyelesaikan sarapan dan aku kembali menemui anakku.

"Ma, tadi si Juniar bilang, nanti sore dia mau kesini nemuin kamu", Ibuku mengangkat Lala dan memberikannya padaku. Saatnya untuk menyusui bayi kecilku.

"Ada apa ya Bu?' Jawabku sambil mencoba membetulkan posisi Lala yang masih susah menerima ASIku.

"Tadi dia tidak bilang apa apa. ibu juga tidak tahu. Apa ada hubungannya dengan berita perceraiannya dia ya Ma", kata ibuku setengah mengajak aku bergosip.

"Alah Bu, kok ibu percaya omongan orang toh, belum tentu Juniar seperti itu ." nadaku membela juniar yang dituduh sebagian orang berselingkuh dan akan digugat cerai suaminya.

"Ya, memang dulu Juniar teman dekatmu, tapi setelah dia bekerja di kota, dia jadi aneh khan Ma."

Lulu menangis, mungkin karena sudah lapar. Ibuku memberinya susu formula karena aku masih menyusui Lala.

Inilah alasanku mengapa aku tidak mau diajak suamiku pindah ke kota tempat suamiku bekerja. kalau tidak ada ibuku, siapa yang bantu merawat aku dan anak anakku.

"Ma, nanti akang cari pembantu buat bantuan Rahma urus rumah dan anak anak.' Itulah yang selalu di omongin suamiku untuk membujuk aku supaya ikut ke kota.

"Tidak usahlah Kang, sayang duitnya. Lagian ibu tidak keberatan kok. iya khan bu" ibuku hanya tersenyum dan mengiyakan penolakanku.

"Iya nak Pandu, nanti lah kalo Lala dan Lulu sudah agak besar. Tahu sendiri khan rahma juga masih kolokan begitu". Ibuku selalu membelaku.

Ibuku..........

Aku tidak tahu darimana datangnya kekuatan itu, tapi yang jelas, ibuku adalah panutanku. Wanita sederhana, setia dan tidak pernah menuntut. Sejak aku kecil, aku sudah tahu kalau ibuku biasa bekerja sendiri untuk membantu ayah mencukupi kebutuhan rumah tangga.

Karena dengan gajih pegawai biasa di kantor kecamatan, ayahku tidak mungkin bisa menyekolahkan enam anaknya. Sedangkan aku anak bungsu , perempuan satu satunya yang memang tidak boleh sekolah lagi setelah lulus SMA.

"Sudahlah Rahma, cukup ambil kursus kursus saja, tidak usah kuliah jauh jauh, nanti kalau dekat jodohmu, kamu khan bisa kuliah lagi dengan ijin suamimu". itulah alasan ayah ynag pada waktu itu sudah pensiun saat aku lulus SMA. Aku tahu kesulitan itu, ya aku terima saja. tapi sayang, sebelum aku berjodoh dengan Kang Pandu, ayahku sudah dipanggil Allah swt.

Saat itulah, aku mulai sering merenung dan jarang ikut teman temanku bersosialisi selayaknya anak muda di kota kecil ku.

Mas Pandu, putra sahabat ayahku, sekaligus teman dekat kakak sulungku, rupanya diam diam menaruh perhatian padaku sejak aku masih di bangku SMP.

Aku juga sudah mengenalnya seperti kakakku sendiri.

Mas Pandu itu orangnya pendiam, ibadahnya bagus, tapi galak. Itulah kesanku. tapi pada saat aku bingung karena ditinggal ayahku. Dialah yang sering menghiburku, sering menemani aku pergi ke mana saja.

Seperti bapaknya, dia juga bekerja di kantor pemerintahan, tapi Mas Pandu ditempatkan di kantor Kabupaten. Karena jaraknya cukup jauh, Mas Pandu tinggal di rumah dinas di kabupaten.

To be continued.....................................

By Sarita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar